Hallo Mifrens! Flek kehamilan makin terlihat, jerawat tiba-tiba muncul, atau kulit jadi jauh lebih sensitif itu keluhan yang sering dialami ibu hamil. Di fase seperti ini, banyak orang ingin “menyelamatkan” kulit dengan bahan aktif yang biasanya cepat bekerja. Sayangnya, tidak semua skincare cocok dipakai saat hamil. Skincare yang tidak boleh untuk ibu hamil, ada beberapa bahan yang sebaiknya dihentikan dulu demi keamanan janin dan demi menghindari risiko yang tidak diinginkan.

Kenapa ada skincare yang tidak boleh untuk ibu hamil
Selama kehamilan, hormon dan kondisi kulit berubah cepat. Karena alasan kehati-hatian, dokter kulit cenderung menyarankan menghindari bahan yang berisiko atau yang data keamanannya pada kehamilan masih terbatas. Banyak produk tetap bisa digunakan, tetapi ada sejumlah bahan yang sebaiknya dihindari atau dibatasi selama kehamilan, dan cara paling aman adalah membaca daftar ingredients pada label.
Daftar bahan yang perlu dihindari
Retinoid (retinol, tretinoin, adapalene, tazarotene, isotretinoin)
Retinoid adalah turunan vitamin A yang terkenal untuk anti-aging dan jerawat. Masalahnya, retinoid terutama yang diminum bersifat teratogenik (dapat menyebabkan cacat bawaan), sehingga tidak boleh digunakan saat hamil. retinoid oral sangat teratogenik dan tidak boleh dipakai selama kehamilan.
Hydroquinone (pencerah flek dengan penyerapan tinggi)
Hydroquinone sering dipakai untuk flek hitam dan melasma. Namun, referensi medis mencatat penyerapan sistemiknya dari pemakaian topikal bisa relatif tinggi (sekitar 35–45%), sehingga banyak panduan menyarankan meminimalkan atau menghindarinya selama kehamilan.
Salicylic Acid (BHA) konsentrasi tinggi / peeling kuat
BHA kadar rendah di beberapa produk sering dianggap “lebih aman”, tapi yang perlu kamu waspadai adalah konsentrasi tinggi (misalnya peeling/chemical peel, atau penggunaan luas/berlapis). Rujukan dermatologi menekankan untuk menghindari salicylic acid konsentrasi tinggi pada kehamilan.
Baca juga: Skincare Aman untuk Ibu Hamil: Tips Merawat Kulit Tanpa Rasa Khawatir
Kalau Dihindari, Terus Skincare apa yang Aman?
Tujuan skincare saat hamil itu sederhana: jaga skin barrier, hidrasi stabil, dan proteksi UV. Ini yang biasanya paling membantu mengurangi drama kulit saat hormon berubah (jerawat hormonal, kusam, sensitif, atau melasma).
Pilihan kandungan yang umumnya lebih “aman untuk ibu hamil”
Berikut opsi yang banyak disebut sebagai pilihan yang lebih aman, terutama untuk rutinitas harian:
- Sunscreen mineral (zinc oxide / titanium dioxide) untuk membantu mencegah flek makin gelap.
- Niacinamide untuk mendukung skin barrier, minyak pada wajah lebih stabil, dan membantu atasi tampilan noda pada wajah.
- Azelaic acid untuk mengatasi jerawat ringan dan kemerahan (sering jadi “andalan aman” saat hamil).
- Glycolic acid / lactic acid (AHA) umumnya lebih sering dianggap opsi eksfoliasi yang “lebih ramah”, selama tidak berlebihan dan kulit tidak iritasi.
Checklist Praktis Sebelum Kamu Beli Skincare
Mulai sekarang, biasakan cek label sebelum membeli skincare dan segera hindari produk yang mencantumkan retinol, retinoid, tretinoin, adapalene, tazarotene, isotretinoin, atau hydroquinone karena bahan-bahan ini sebaiknya tidak digunakan saat ibu hamil. Setelah itu, kurangi kebiasaan “coba-coba” eksfoliasi kuat seperti peeling rumahan atau penggunaan BHA konsentrasi tinggi, karena kulit ibu hamil cenderung lebih sensitif dan lebih mudah iritasi. Jika kamu sedang berjuang dengan flek atau melasma, fokuskan rutinitas pada sunscreen yang dipakai konsisten, pelembap untuk menjaga skin barrier, serta bahan yang lebih aman seperti niacinamide atau azelaic acid agar perbaikan kulit tetap berjalan tanpa risiko yang tidak perlu. Kalau jerawatmu sedang meradang atau terasa makin parah, sebaiknya hentikan layering produk yang terlalu banyak dan pilih konsultasi ke dokter agar kamu mendapat pilihan perawatan yang aman untuk ibu hamil sesuai kondisi kulitmu.





